Laporan Bacaan Apresiasi Prosa Fiksi

 

Tugas Laporan Bacaan Apresiasi Prosa Fiksi Indonesia

 

Nama                          : Nur Alifia Junita

NIM                            : 25016144

Kelas                           : Internasional

Mata Kuliah                : Apresiasi Prosa Fiksi Indonesia

Dosen Pengampu        : Dr. Abdurrahman, M.Pd

 

BAB I

PENDAHULUAN

Pokok yang dibahas di sini adalah prosa fiksi, yaitu jenis prosa yang dihasilkan dari proses imajinasi. Fiksi di sini berarti "fiction" yang artinya hasil khayalan atau sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Cerita-cerita sastra, seperti roman, novel, dan cerita pendek diklasifikasikan sebagai prosa fiksi, sedangkan prosa yang bukan karya sastra yang merupakan deskripsi dari kenyataan dinyatakan sebagai prosa nonfiksi. Misalnya, biografi, catatan harian, laporan kegiatan, dan sebagainya yang merupakan uraian yang bukan hasil imajinasi, adalah prosa fiksi.

Buku ini disusun berdasarkan kurikulum yang disesuaikan dengan tujuan konsep dan apresiasi sastra. Karena itu, di samping membahas teori prosa fiksi, juga membahas contoh-contoh prosa fiksi dalam sastra Indonesia untuk diapresiasi.

 

BAB II

ISI

A.    Definisi Prosa Fiksi

Prosa fiksi adalah jenis prosa yang dihasilkan dari imajinasi. Fiksi berarti “fiction”yang artinya hasil khayalan atau sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Cerita-cerita sastra, seperti roman, novel, dan cerita pendek diklasifikasikan sebagai prosa fiksi. Prosa berasal dari kata “orate provorsa” yang berarti uraian langsung, cerita langsung, atau karya sastra yang menggunakan bahasa terurai. Dikatakan menggunakan bahasa terurai, artinya tidak sama dengan puisi (menggunakan bahasa yang dipadatkan) dan tidak sama dengan drama (menggunakan bahsa dialog).

Kata fiksi berasal dari bahasa Latin fictio yang berarti membentuk, membuat, atau mengadakan. Dalam bahasa Indonesia, kata “fiksi” dapat diartikan sebagai  yang dikhayalankan atau diimajinasikan. yang ditampilkan dalam cerita fiksi adalah hasil imajinasi dari pengarang.

 

B.    Jenis-jenis Prosa Fiksi

Prosa fiksi terdiri dari atas roman, cerita pendek, dan novel.

1)    Roman adalah prosa fiksi yang melukiskan sebagian besar kisah tokoh yang biasanya dilukiskan sampai mati. Kata “roman” berasal dari kata “romagna” yaitu bahasa yang digunakan untuk menulis cerita tersebut (Romagna adalah bahasa di sekitar Roma). Roman juga dapat dikatakan sebagai kronik kehidupan yang berusaha untuk merenungkan dan melukiskan kehidupan dalam bentuk tertentu dengan segala pengaruh, ikatan, dan tercapainya hasrat kemanusiaan.

2)    Definisi cerita pendek menurut W.H.Hudson (1953: 338), yaitu “cerita pendek harus memuat satu dan hanya satu ide yang mendasarinya, dan ide ini harus dikembangkan hingga kesimpulan logisnya dengan tujuan tunggal dan metode langsung". Cerita pendek dipandang sebagai karya sastra yang banyak ditulis hingga periode terakhir ini. Cerita pendek paling luwes disajikan, dalam surat kabar, majalah, maupun buku-buku kumpulan cerpen.

3)    Secara etimologis, kata “novel” berasal dari “novellus” yang berarti baru. Menurut Robert Lindell, karya sastra yang berupa novel, pertama kali lahir di Inggris dengan judul Pamella yang terbit tahun 1740 (Tarigan, 1984:164). Tadinya novel (Pamella) merupakan bentuk catatan harian seorang pembantu rumah tangga. Kemudian berkembang menjadi bentuk prosa fiksi seperti saat ini.

 

C.    Perkembangan Prosa Fiksi di Indonesia

a)    Periode 1920-1933 (Periode Balai Pustaka)

Periode Balai Pustaka merupakan periode pemula dalam penciptaan prosa fiksi. Namun telah banyak ditulis karya sekitar tahun1920 hingga 1933 ini. Hal ini disebabkan oleh usaha Pemerintah Belanda melalui Badan Bacaan “Balai Pustaka” cukup gigih mengusahakan penerbitan roman, cerita pendek, puisi. Ciri-ciri prosa fiksi dapat diklasifiksikan ke dalam dua golongan yaitu ciri-ciri isi dikemukakan (tematis) dan ciri-ciri kebahasaan yang digunakan (ciri bangun sintaktik) (Pradopo, 1984).

b)    Periode 1933-1942 (Periode Pujangga Baru)

Periode ini disebut juga Periode Angkatan Pujangga Baru. Jika pada periode sebelumnya banyak diciptakan karya sastra prosa (terutama roman), maka pada periode ini banyak diciptakan puisi. Di dalam periode ini hanya akan dibahas dua karya puncak dari dua sastrawan, yaitu Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana dan Belenggu karya Armijn Pane (kedua pengarang ini juga menulis dan membukukan puisi).

c)     Periode Angkatan 45 (1942-1955)

Pada periode ini banyak pengarang terkemuka yang tampil, seperti Idrus, Achdiat Kartamihardja, Mochtar Lubis, dan Pramudya Ananta Toer.

 

D. Perbedaan  Prosa Fiksi dan Non fiksi

Prosa fiksi yaitu jenis prosa yang dihasilkan dari proses imajinasi, seperti roman, cerita pendek, dan novel. Sedangkan prosa yang bukan karya sastra yang merupakan deskripsi dari kenyataan dinyatakan sebagai prosa non fiksi. Contohnya biografi, catatan harian, laporan kegiatan,dan sebagainya yang merupakan uraian yang bukan hasil imajinasi.

 

BAB III

PENUTUP

 

Prosa fiksi adalah jenis prosa yang dihasilkan dari imajinasi. Cerita-cerita sastra, seperti roman, novel, dan cerita pendek diklasifikasikan sebagai prosa fiksi. Dalam bahasa Indonesia, kata “fiksi” dapat diartikan sebagai  yang dikhayalankan atau diimajinasikan. yang ditampilkan dalam cerita fiksi adalah hasil imajinasi dari pengarang. Prosa non fiksi bukan termasuk karya sastra sastra yang merupakan deskripsi dari kenyataan dinyatakan sebagai prosa non fiksi. Contohnya biografi, catatan harian, laporan kegiatan,dan sebagainya yang merupakan uraian yang bukan hasil imajinasi. Jenis- jenis prosa fiksi yaitu roman, cerita pendek, dan novel.

Penciptaan prosa fiksi di Indonesia dimulai pada tahun 1920 sampai 1933, periode ini disebut Periode Balai Pustaka, periode ini disebabkan oleh usaha Pemerintah Belanda melalui Badan Bacaan “Balai Pustaka” cukup gigih mengusahakan penerbitan roman, cerita pendek, puisi.. Kemudian, prosa fiksi berkembang lagi pada tahun 1933 sampai 1942, disebut juga dengan Periode Pujangga Baru. Jika pada periode sebelumnya banyak diciptakan karya sastra prosa (terutama roman), maka pada periode ini banyak diciptakan puisi. Perkembangan prosa fiksi di Indonesia yang terakhir adalah Periode Angkatan 45 yaitu dari tahun 1942 sampai pada tahun 1955. Pada periode ini banyak pengarang terkemuka yang tampil, seperti Idrus, Achdiat Kartamihardja, Mochtar Lubis, dan Pramudya Ananta Toer.

 

DAFTAR PUSTAKA

​Waluyo, H. J. (2017). Pengkajian dan Apresiasi Prosa Fiksi. Penerbit Ombak.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Definisi Novel dan Pentingnya Mengapresiasi Novel

Apresiasi Prosa dengan Pendekatan Psikologis Sastra